"Cara Rifa Dalam Meromantisasi Air Mata, Menjadi Kekuatan Untuk Berdampak"
Bengkulu, 6 Januari 2026 – Perkenalkan Rifa Nurfaizah, seorang Siswi kelas 12 yang akrab disapa Rifa. Ketertarikannya pada dunia public speaking tumbuh sejak masa Sekolah Dasar, yang tercipta dari tiap detik proses yang dijalaninya. Perjalanan tersebut bermula saat Rifa menjadi bagian dari MTsN Gowa, Madrasah kebanggaan yang membentuk langkah awalnya hingga hari ini. Namun, seiring bertambahnya usia, Rifa menyadari bahwa perjalanan ini tak selalu se-sederhana jatuh cinta pertama-nya. Rifa mulai merajut perjalanannya dengan mengambil peran aktif di OSIM.
Rifa melanjutkan kiprahnya selama dua periode, hingga akhirnya dipercayakan memegang amanah besar sebagai Wakil Ketua OSIM di tahun terakhirnya. Melalui kesempatan ini, Rifa mendapatkan banyak "golden ticket" yang membukakan jalan bagi Rifa untuk terus berkembang, sekaligus menajamkan bakat dan kemampuan, khususnya di ranah Puisi.
Beranjak ke SMA, Rifa mulai merasakan bahwa setiap proses tak pernah mudah. Akan datang saat-saat di mana jatuh terasa begitu dalam, dan masa SMA menjadi takdir sekaligus ujian terbesar baginya. Di setiap langkah yang ia jalani, di balik setiap pengumuman “SELAMAT”, terselip butiran air mata yang menemani malam-malam panjangnya. Lingkungan yang kurang mendukung dan ujian-ujian yang menekan mentalnya seolah menantang batas ketabahannya. Namun semua itu, perlahan, membentuk Rifa menjadi pribadi yang lebih tangguh dan siap menghadapi dunia hari ini.
Namun di sisi lain, Rifa memilih untuk #berdampak. Melalui kegiatan volunteering dan pengabdian, Rifa menyalurkan energi positifnya, memulihkan diri dengan menebar keceriaan. Rifa memaknai kata-kata “ada kebaikan yang tidak akan lahir jika kamu tidak ada” dengan sederhana, berusaha menghadirkan kebaikan itu dalam setiap langkahnya.
Rifa selalu, dan akan terus, jatuh cinta pada takdirnya. Pada lagu-lagu yang menghiasi hari-harinya, pada senyum manisnya, pada tawa dan air mata, serta pada setiap peristiwa yang membentuk hidupnya. Rifa menyadari bahwa selain harus ikhlas, dunia pun layak untuk diromantisasikan. Meski belum banyak hebatnya, Rifa bangga atas perjalanan yang tercipta dari setiap jejak yang dilaluinya hingga hari ini.
