Edukatif.id
Mei 29, 2025
Diva Nazla Zaira
SMAN 8 Pekanbaru
Bengkulu, 29 Mei 2025 – Perkenalkan, aku Diva Nazla Zaira, “Mimpi yang dulu cuma berani aku bisikkan pelan, ternyata hari ini jadi kenyataan.” Begitulah awal mula langkahku ke Jepang lewat Sakura Science High School Program (SSHP). Aku pertama kali tahu program ini dari Kakak Duta SMA sebelumnya yang juga pernah ikut. Dari situ, aku mulai bermimpi, "suatu saat aku juga ingin jadi bagian dari itu."
siapa sangka, aku mendapatkan undangan langsung dari Direktorat SMA khusus Duta SMA dengan kriteria tertentu. Aku nggak bisa bilang kriterianya detail karena bisa berbeda setiap tahun, tapi yang pasti kemampuan bahasa Inggris yang lancar itu menjadi salah satu aspek penting.
Program ini sistem seleksi nya tertutup, jadi prosesnya mungkin tidak bisa di sebar luas. Berdasarkan pengalaman ku, tahap awal adalah membuat video. Setelah itu, hanya beberapa orang yang lanjut ke tahap wawancara. Dari sana, akhirnya terpilih 5 orang dari seluruh Indonesia untuk berangkat ke Jepang. Tahun ini kuotanya turun drastis, jadi aku merasa sangat bersyukur bisa terpilih untuk mengikuti kegiatan Sakura Science High School Program ini.
Buat kamu yang penasaran, setiap tahun sumber peserta bisa berbeda—tahun ini dari Duta SMA dan OPSI, tapi pernah juga dibuka untuk umum. Jadi jangan remehkan lomba atau pengalaman apapun yang kamu ikuti, karena kita nggak pernah tahu pintu mana yang akan terbuka.
Perjalanan dimulai di Jakarta, tempat para peserta mengikuti pre-departure training. Kami dibekali materi, terlibat dalam kegiatan seru, serta menghadiri pelepasan resmi. Tak hanya itu, kami juga menerima merchandise, uang saku, dan semangat baru untuk petualangan yang menanti.
Kami terbang langsung ke Jepang selama tujuh jam dengan Japan Airlines. Sesampainya di sana, kami dijemput oleh Hiroyo-san, koordinator lokal, dan menginap di sebuah hotel di Saitama. Kegiatan berlangsung di Tokyo, jadi setiap hari kami harus menempuh perjalanan 1–2 jam menggunakan bus, bersama delegasi dari Thailand dan Vietnam.
Setiap hari kami memiliki agenda yang padat, tetapi penuh makna. Mulai dari orientasi di kantor JST, menjelajah Asakusa, hingga tour kampus di Universitas Tokyo. Kami juga mengunjungi AIST lembaga riset teknologi Jepang untuk belajar dan praktik langsung dengan teknologi terbaru.
Salah satu pengalaman yang paling mengesankan bagi aku adalah saat berkunjung ke JAXA, badan eksplorasi antariksa Jepang, dan menyaksikan langsung ruang kontrol serta roket asli, sebuah mimpi masa kecil yang sejenak kembali terlintas, karena dulu aku pernah bercita-cita menjadi astronot.
Hari berikutnya kami belajar tentang fisika, diskusi beasiswa, dan melihat ruang kreasi para siswa di Institute of Science Tokyo. Lalu selanjutnya kami berkunjung ke Tokai University Takanawadai Senior High School, bertemu langsung dengan siswa Jepang dan mencoba hands-on collaboration lintas negara walau terkendala bahasa. Bahkan kami sempat bertemu langsung dengan Professor Takaaki Kajita, peraih Nobel Fisika. Sebelum program ditutup, para peserta mengunjungi Miraikan, museum teknologi masa depan Jepang.
Pada acara penutupan di JST, aku dipercaya untuk menyampaikan closing speech mewakili Indonesia di hadapan seluruh delegasi. Bagiku, ini bukan sekadar pidato tetapi simbol dari perjalanan dan mimpi yang berhasil ku genggam.
Setelah rangkaian program selesai, para peserta kembali ke Jakarta. Bagi yang berasal dari luar kota, disediakan penginapan tambahan. Kami pun menyempatkan diri jalan-jalan bersama di PIK sebagai penutup kisah manis sebelum akhirnya berpisah.
Dari Jepang, aku belajar banyak. Bukan cuma tentang teknologi, tapi juga manner, kedisiplinan, ketertiban, menghargai waktu dan ruang. Aku jadi sadar kenapa Jepang bisa maju karena manusia-manusianya hebat. Aku belajar buang sampah harus dipisah, bangun pagi itu rutinitas yang dijaga, dan rapi itu budaya. Aku juga belajar komunikasi lintas budaya dan pentingnya kolaborasi, bahkan dalam keterbatasan bahasa.
Pengalaman ini membuka mataku bahwa sains dan teknologi itu bukan cuma menarik, tapi menyenangkan dan aku ingin menjadi bagian dari kemajuan itu dan berjanji dalam hati untuk membawa pulang pelajaran ini demi sesuatu yang bisa kuberikan ke Indonesia.
Akses Kisah Inspiratif Lainnya Melalui:
Penyunting: Jumadi Hasibuan
