"Menemukan Versi Terbaik Diriku, Bersama Sahabat Bernama Ketakutan"
Maria Natha Elora
SMAN 3 Yogyakarta
Bengkulu, 10 September 2025 – Perkenalkan Maria Natha Elora, dulu ia pernah merasa kesal karena orang tuanya tidak menuntutnya untuk mengikuti berbagai les dan perlombaan sejak kecil. Akibatnya, saat memasuki SMP, elora merasa tertinggal dari teman-teman yang sudah berprestasi. Namun, ia yakin setiap orang bisa mencapai versi terbaik dirinya masing-masing. Pertanyaan pun muncul di benaknya “Bagaimana versi terbaik diriku?” Dari situlah perjalanannya dimulai, tepatnya pada lomba antar kelas pertamanya.
Meski hanya lomba antar kelas, di sanalah Elora pertama kali menyadari bahwa lawan sejatinya adalah rasa takut. Tidak ada yang menuntutnya untuk melewati segala perjuangan itu selain dirinya sendiri. Semakin sering ia mengikuti lomba, semakin besar pula rasa senang dan nyamannya. Elora tidak mengikuti perlombaan karena merasa yakin akan bakatnya, melainkan karena ia ingin memanfaatkan kesempatan dan berusaha sebaik mungkin.
Dari hanya juara antar kelas, ia kemudian berhasil meraih juara 1 berturut-turut hingga tingkat provinsi. Pada akhirnya, ia sempat menganggap kejuaraan itu sebagai “identitas dirinya.” Namun, hal tersebut juga menjadi salah satu kesalahannya karena menggantungkan identitas pada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Prestasinya semasa SMP ditambah dengan pencapaiannya sebagai peringkat 2 seangkatan membuat Elora diterima di SMA favorit. Sekolah itu terkenal sulit dimasuki, dan tidak mudah untuk bertahan dalam dinamika lingkungannya. Perbedaan suasana dari sekolah lamanya membuat Elora kewalahan. Pada perlombaan yang elora ikuti di SMA, ia mengalami kekalahan. Saat itulah ia mulai percaya bahwa kejuaraan yang pernah diraihnya hanyalah keberuntungan semata, bukan karena bakatnya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini diperjuangkan.
Selama ini, Elora memang tidak pernah benar-benar yakin dengan bakat dan dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa setiap orang bisa memainkan peran di dunia yang ibarat panggung sandiwara sehingga mustahil baginya untuk menganggap “bermain peran” sebagai sebuah bakat. Namun, ia tetap mendengarkan bagian kecil dari dirinya yang tidak mau menyerah, dan terus mencoba.
Meski merasa senang, Elora tetap menjalani setiap proses dan perlombaan dengan rasa takut hingga hari ini. Bedanya, rasa takut yang dulu ia kira lawan kini telah menjadi sahabat. Rasa takut itulah yang ia jaga agar tetap membuatnya berusaha melakukan yang terbaik. Akhirnya, Elora menyadari bahwa manusia tidak benar-benar memandang segala sesuatu sebagaimana adanya, melainkan berdasarkan siapa dirinya. Setiap pengalaman hidup bisa dilihat sebagai hambatan, pendorong, atau sesuatu yang diabaikan. Pilihan itulah yang akan menentukan proses dan perjalanan seseorang.
Akses Kisah Inspiratif Lainnya Melalui:
@_edukatif.id
Penyunting: Jumadi Hasibuan
