Edukatif.id
Mei 22, 2025
SMAN 2 Jember
Bengkulu, 22 Mei 2025 – Perkenalkan Kikandya Izzaura Dalevia adalah sosok remaja dari desa yang sejak usia dini telah menunjukkan nyala semangat luar biasa. Di bangku sekolah dasar, ia telah berani melangkah ke atas panggung lomba pidato cilik, sebuah panggung kecil yang menjadi awal kecintaannya pada dunia public speaking. Tak hanya piawai berbicara, ia juga gemar terlibat dalam berbagai kegiatan menantang, didorong oleh cinta dan dukungan tanpa syarat dari kedua orang tuanya.
Sang bunda menjadi sosok yang selalu hadir di setiap langkah. Ia bukan hanya pengantar setia ke lokasi lomba, tapi juga pelipur lara saat kegagalan datang dan penebar senyum paling cerah kala nama Kikandya diumumkan sebagai juara. Sementara sang ayah, meski bekerja jauh di luar pulau, tak pernah absen menyampaikan semangat dan cinta, seolah jarak tak mampu memisahkan kedekatan mereka.
Dengan ketekunan dan kerja keras, prestasi demi prestasi pun diraih. Puncaknya, ia berhasil menembus SMP favorit di kota Jember melalui jalur prestasi. Masa depan seolah tersaji terang di hadapan dan segalanya terasa mungkin untuk dicapai.
Namun, hidup seringkali menghadirkan badai di tengah langit cerah. Tahun 2021, pandemi Covid-19 merebut banyak hal termasuk sosok paling berarti dalam hidupnya. Bundanya berpulang dan dunia yang dulu hangat, mendadak menjadi sunyi dan dingin. Kikandya kehilangan arah, Ia berhenti berlari dan perlahan kehilangan jati dirinya.
Ucapan sinis dari lingkungan sekitar silih berganti, namun bukan itu yang paling menyakitkan. Tetapi yang paling menghancurkan adalah rasa kecewa pada diri sendiri, merasa gagal, merasa mengecewakan harapan sang bunda. Bahkan saat mendaftar ke SMA, sekolah impiannya tak bisa ia raih dan jatuh semakin dalam. Namun hidup terus berjalan, tak peduli seberapa berat langkahnya, takdir menuntunnya ke SMAN 2 Jember.
Saat duduk di bangku kelas 10. Perlahan, Kikandya mulai membuka dirinya. Ia mulai menemukan semangat yang sempat menghilang, mengenal teman baru, dan merajut kembali mimpi yang hampir sirna. Titik terang itu bernama Forum Pelajar Indonesia ke-13. Bukan sekadar ajang, melainkan jalan untuk menyalakan kembali bara dalam dirinya. Ia mempelajari jejak para alumni, bersungguh-sungguh dalam proses seleksi, dan menyiapkan dirinya dengan tujuan memperbaiki jiwanya yang sempat patah.
Ketika pengumuman kelolosan itu datang, air mata tak bisa ia bendung. Bukan sekadar tangis bahagia, melainkan kelegaan bahwa dirinya masih layak bermimpi. Berbekal dukungan dari pihak sekolah, ia pun melangkah ke Jakarta. Di sana, jauh dari rumah dan Kikandya kembali berdiri tegak. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa yakin "Ternyata, bangkit tidak semenakutkan itu." Ia belajar dari teman-teman baru, menyerap pelajaran hidup dari berbagai sudut pandang.
Satu demi satu, langkahnya mulai bermakna. Ia menjadi Student Ambassador Prettywell dan mendapatkan penghasilan sendiri untuk pertama kalinya. Ia mulai merasakan arti kemandirian dan menghargai setiap proses yang dilaluinya. Saat ia dinobatkan sebagai Best Content Creator dalam program InilhoITS dari ITS, air matanya kembali jatuh, bukan karena sedih tapi karena tahu bahwa bundanya pasti bangga.
Dunia lomba yang dulu ia tinggalkan, kini ia datangi kembali. Ia menulis esai, berbicara lantang dengan suara yang sempat hilang. Dan ketika meraih Juara 1 Lomba Essay Speak Your Opinion dari Universitas Jember, ia tahu itu lebih dari sekadar kemenangan tetapi pembuktian bahwa suaranya masih hidup. Ia mencoba panggung yang berbeda yaitu ajang Gus Ning Duta SMAN 2 Jember. Ironisnya, di sekolah yang dulu membuatnya ingin menyerah, kini ia berdiri mewakilinya.
Di penghujung 2024, ia mengikuti seleksi Jambore Pelajar Teladan Bangsa. Ia tidak mencari pengakuan, tapi pengalaman dan pembelajaran. Di sana, ia bertemu teman-teman dari berbagai kota, menyelami cerita mereka, dan memperkaya perspektifnya tentang hidup. Ia pun dipercaya sebagai Brand Ambassador Generasi Anti Kekerasan Indonesia untuk membawa suara, bahwa luka tidak boleh diwariskan, tapi dijadikan kekuatan.
Kini, Kikandya terus melangkah. Ia sedang memperjuangkan kampus impiannya, dengan aktif mengikuti lomba, dan terus belajar teknik desain. Bagi sebagian orang, semua ini mungkin hanya daftar prestasi. Tapi bagi Kikandya, setiap panggung adalah jembatan dari kehilangan menuju harapan. Meski hingga kini masih ada suara sumbang yang menilai tanpa tahu perjuangannya, Kikandya memilih diam. Ia tak ingin memperkeruh hubungan dengan siapa pun, karena ia tahu bahwa satu masalah saja sudah cukup melelahkan.
Fokusnya kini adalah pada kesehatan mental, menjaga lingkungan pertemanan yang positif, dan menjauh dari relasi yang toksik. Ia percaya, lingkungan sehat adalah tanah subur bagi pertumbuhan dirinya. Di balik semua pencapaiannya, ada orang-orang terdekat yang terus mendukungnya. Teman-teman yang selalu hadir, memberi semangat, dan percaya padanya saat ia sendiri mulai ragu. Baginya, tanpa mereka, perjalanan ini takkan seindah ini.
Sejatinya, juara bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, tapi mereka yang tetap berdiri meski pernah dihancurkan dunia. Kikandya telah melalui titik terendah. Ia bangkit, tetapi ini tidak instan dan tidak mudah. Tapi ia tetap berjalan, meski harus tertatih. Karena dari semua luka dan kehilangan, ia belajar satu hal penting bahwa tidak ada kehilangan yang sia-sia, jika kita memilih untuk bangkit.
Akses Kisah Inspiratif Lainnya Melalui:
Penyunting: Jumadi Hasibuan
