Talita Almira Salsabila
SMAN Unggulan MH Thamrin
Tips and Tricks Membangun Ekosistem Pertemanan yang Inklusif dan Empowering Menurut Wakil Ketua Angkatan MHT 15
Hai semuanya! Perkenalkan, aku Talita Almira Salsabila biasa dipanggil Talita. Aku bangga menjadi bagian dari SMAN Unggulan MH Thamrin, khususnya angkatan MHT 15. Sekolahku sering dikenal dengan kurikulum yang padat dan siswa-siswinya yang katanya “nerdy.” Tapi ada satu hal yang menurutku lebih istimewa dari semua itu: tradisi dan lingkungan pertemanannya.
Bagiku, tempat terbaik untuk tumbuh adalah tempat di mana kita bisa tumbuh bersama. Karena itu, aku ingin berbagi sedikit pengalaman dan tips and tricks dalam membangun ekosistem pertemanan yang inklusif dan empowering, berdasarkan perjalananku sebagai Wakil Ketua Angkatan MHT 15.
1. Kenali Kekuatan Tiap Individu, dan Ajak Mereka Menggunakannya untuk Kebaikan Bersama "You don’t have to shine the same way to light up the same room."
Tidak semua orang unggul di akademik. Ada yang jago desain, peka terhadap perasaan orang lain, atau diam-diam selalu bisa diandalkan. Tugas kita adalah mengenali dan menghargai setiap bentuk kontribusi—sekecil apa pun itu. Dorong teman-teman untuk menggunakan kekuatannya untuk membantu orang lain, dan sebaliknya. Ini bukan soal siapa yang paling menonjol, tapi bagaimana kita bisa saling menguatkan dan memperkuat cahaya satu sama lain.
2. 5S + 5 Kata Ajaib: Maaf, Terima Kasih, Permisi, Tolong, Semangat
Percaya nggak, sesederhana senyuman bisa mempererat hubungan? Di sekolahku, budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dan ucapan “Semangat!” benar-benar punya dampak besar. Mungkin awalnya terasa canggung, tapi menyapa teman bahkan yang belum terlalu dekat bisa membuka ruang untuk kedekatan. Budaya ini secara nggak langsung memupus batas antar angkatan. Nggak ada senioritas, yang ada justru saling mendukung.
Satu kata sederhana seperti “Semangat!” bisa berarti banyak terutama di hari-hari berat.
3. Jadi Pengingat, Bukan Penghakim
"We rise by lifting others."
Saat ada teman yang mulai kehilangan arah, jangan langsung menghakimi. Dekati mereka, dengarkan, dan ingatkan tentang alasan awal mereka berjuang. Kadang, duduk bareng sambil nunggu kelas bisa jadi momen penting untuk tahu kabar sebenarnya. Jangan cuma tanya progresnya, tapi juga tanyakan kabarnya. Kalimat sederhana seperti “Apa kabar kamu hari ini?” bisa sangat menyentuh dan bermakna.
4. Kalau Ada Senioritas, Jadilah Orang Pertama yang Menghentikannya
Buat para kakak kelas di luar sana, percaya deh suatu saat, kalian mungkin akan butuh bantuan adik kelas kalian. Hubungan baik jauh lebih bernilai dibanding gengsi senioritas. Kalau ada kesalahan, mari saling mengingatkan dengan bijak, bukan dengan merasa lebih tinggi. Karena relasi yang sehat antar angkatan bukan cuma membentuk lingkungan sekolah yang nyaman, tapi juga jaringan alumni yang solid.
5. Kritik yang Membangun Lebih Baik Daripada Mengomongkan di Belakang
Di sekolah kami, kami sering adakan forum diskusi dan sesi feedback. Bahkan ada yang dengan sadar meminta evaluasi untuk dirinya sendiri. Kritik yang membangun dan disampaikan secara langsung serta penuh empati jauh lebih berguna daripada keluhan yang dibicarakan di belakang. Dan ketika kita tahu kesalahan kita, tapi masih didukung untuk memperbaikinya itu tandanya kita dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar peduli.
Pesan untuk Teman-Teman Pengurus OSIS/MPK
Ayo mulai rancang program-program kerja yang bisa menumbuhkan solidaritas antar angkatan. Misalnya, buat lomba dengan anggota tim lintas angkatan supaya bisa saling berbagi cerita dan membangun koneksi.
Adakan juga kegiatan non-formal yang seru dan santai. Di MHT, kami punya proker bernama Thamrin World War acara main air bareng tiga angkatan. Seru banget! Ajaibnya, dari acara itu, kami bisa “nyeburin kakak kelas” tanpa sungkan. Dan dari situ, rasa akrab dan egaliter tumbuh dengan sendirinya.
Kamu nggak harus jadi pengurus OSIS/MPK untuk membawa perubahan. Kadang, cukup jadi teman yang baik pun sudah termasuk bentuk kepemimpinan. Karena pada akhirnya, menjadi pemimpin bukan soal memberi perintah, tapi soal memberi ruang ruang untuk semua orang berkembang dengan cara dan keunikannya masing-masing.
"If you want a better environment, be an initiator. Karena kita semua bisa tumbuh dan bersinar bareng."
Akses Tips And Trick Lainnya Melalui:
Penyunting: